El John News, Jakarta – Sejarah kemerdekaan Indonesia tidak hanya mencatat perjuangan satu kelompok masyarakat. Di balik lahirnya Negara Kesatuan Republik Indonesia, terdapat kontribusi dari berbagai elemen bangsa, termasuk tokoh-tokoh Tionghoa yang turut mengambil bagian dalam proses perjuangan dan pembentukan negara.
Semangat tersebut menjadi salah satu pesan yang diangkat dalam Dialog Kebangsaan bertema “Mengenang Jejak Perjuangan Tokoh-Tokoh Tionghoa dalam Sejarah Kemerdekaan Indonesia”. Kegiatan ini diselenggarakan dalam rangka memperingati HUT ke-81 Kemerdekaan RI ini, digagas oleh Perkumpulan Marga Yap Indonesia Bersatu bersama Hakka Indonesia di Museum Hakka, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta. Rabu (26/8/2026).
Kegiatan tersebut secara khusus menjadi ruang untuk mengenalkan perjalanan hidup dan semangat kebangsaan sejumlah tokoh Tionghoa yang memiliki peran penting dalam proses lahirnya Indonesia. Mereka yakni Drs. Yap Tjwan Bing, Liem Koen Hian, Tan Eng Hoa, Oei Tiong Tjoi, dan Oei Tjong Hauw.
Kelima tokoh tersebut disebut memiliki keterlibatan melalui keanggotaan dalam Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI). Jejak perjuangan mereka menjadi bagian dari sejarah yang menunjukkan bahwa semangat memperjuangkan Indonesia tumbuh dari berbagai latar belakang masyarakat.
Peserta kegiatan berasal dari kalangan murid SMA serta berbagai unsur masyarakat. Keterlibatan pelajar menjadi bagian penting karena pengenalan sejarah kepada generasi penerus dinilai dapat memperkuat pemahaman mengenai arti persatuan dan keberagaman. Tak ketinggalan Putri binaan Yayasan EL JOHN Indonesia juga hadir pada acara penuh edukasi ini.
Dialog menghadirkan narasumber Dahlan Iskan (Menteri BUM Periode 2011-2014/Pendiri Disway); Basuki Tjahaja Purnama (Gubernur DKI Jakara Periode 2014-2017) dan Azmi Abubakar (Pendiri Museum Pustaka Peranakan Tionghoa)
Dalam dialog yang berlangsung selama dua jam ini, masing-masing narasumber memberikan pandangannya. Basuki Tjahaja Purnama atau yang akrab disapa Ahok merasakan keyakinan masa depan Indonesia tetap memiliki harapan selama masyarakat, khususnya generasi muda, terus memegang teguh ideologi negara dan nilai-nilai yang menjadi ciri khas bangsa.
Dalam kesempatan tersebut, Ahok mengajak generasi muda untuk tidak berpikir meninggalkan Indonesia. Menurutnya, Indonesia merupakan negara besar yang memiliki masa depan dan peluang bagi seluruh anak bangsa.
“Jadi, saudara-saudara, anak siapa pun, jangan punya pikiran mau meninggalkan Indonesia. Indonesia ini besar dan kita punya harapan di negeri ini,” ujar Ahok.
Ia menegaskan, keyakinan terhadap masa depan Indonesia harus dibarengi dengan sikap teguh dalam memegang ideologi negara, yakni Pancasila. Menurutnya, Pancasila menjadi salah satu landasan penting dalam menjaga persatuan bangsa di tengah keberagaman.
“Sekali lagi saya sampaikan, kita harus yakin masa depan kita ada di Indonesia, asalkan kita tetap berdiri teguh memegang ideologi negara ini, yaitu Pancasila,” katanya.
Sementara itu Dahlan Iskan memberikan pandangan bahwa membaca sejarah tidak cukup hanya dari satu sudut pandang. Masyarakat perlu melihat berbagai sumber dan versi sejarah agar dapat memahami sebuah peristiwa secara lebih utuh.
Dahlan menilai, sejarah dapat memiliki sudut pandang yang berbeda karena proses penulisannya tidak terlepas dari kondisi dan kekuasaan pada suatu masa. Karena itu, ia mendorong masyarakat untuk lebih kritis dalam memahami berbagai catatan sejarah.
“Lebih baik setiap orang yang membaca sejarah membaca banyak versi, karena ada anggapan bahwa sejarah ditulis oleh pihak yang sedang berkuasa,” ujar Dahlan.
Untuk pandangan dari Azmi Abubakar, mengatakan peran masyarakat Tionghoa dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia dinilai masih belum banyak diketahui masyarakat. Padahal, sejumlah warga keturunan Tionghoa turut terlibat dalam perjuangan secara fisik dan militer di berbagai daerah di Indonesia.
Azmi mengungkapkan minimnya pengetahuan masyarakat mengenai kiprah pejuang Tionghoa menjadi salah satu alasan dirinya terus mendorong pengumpulan dan pendokumentasian sejarah melalui Museum Pustaka Peranakan Tionghoa.
“Jika masyarakat Indonesia memahami bahwa saudara mereka dari etnis Tionghoa juga ikut berjuang, bahkan berjuang secara fisik membela tanah air, tentu pemahaman tentang sejarah bangsa akan menjadi lebih utuh. Inilah yang terus mendorong saya sampai hari ini untuk membina Museum Pustaka Peranakan Tionghoa,” ujar Azmi.
Menurut Azmi, pihaknya terus berupaya mengumpulkan informasi mengenai para pejuang Tionghoa, khususnya mereka yang terlibat dalam perjuangan fisik dan militer. Ia menyebut keberadaan para pejuang tersebut tersebar di berbagai daerah di Indonesia.
“Yang kami kumpulkan khususnya adalah para pejuang, baik pejuang fisik maupun pejuang militer Tionghoa, yang ternyata ada di setiap daerah di seluruh Indonesia,” katanya.

Azmi menilai, penyampaian informasi sejarah secara lebih lengkap kepada masyarakat penting untuk memperkuat rasa persaudaraan antarelemen bangsa. Menurutnya, minimnya pengetahuan mengenai kontribusi masyarakat Tionghoa berpotensi memunculkan kesalahpahaman dalam melihat hubungan antaretnis di Indonesia.
“Jika informasi ini tersampaikan kepada masyarakat dengan baik, tentu tidak akan terjadi peristiwa-peristiwa seperti 1998. Ini adalah bagian sejarah yang tersembunyi, dilupakan, atau bahkan dihilangkan, hingga 81 tahun Indonesia merdeka,” tutur Azmi.
Ketua Umum Perkumpulan Marga Yap Indonesia Bersatu sekaligus Ketua Umum Perkumpulan HAKKA Indonesia Sejahtera Sugeng Prananto, menilai dialog kebangsaan menjadi momentum penting untuk menanamkan semangat cinta tanah air kepada generasi muda.
Menurut Sugeng, semangat kebangsaan yang telah dibangun generasi saat ini harus terus diteruskan dan dikembangkan oleh generasi penerus. Ia berharap anak-anak muda memiliki kecintaan yang kuat terhadap Indonesia serta berkomitmen menjaga nilai-nilai kebangsaan.
“Kita ingin memberikan bimbingan kepada generasi penerus agar semangat kita untuk Indonesia terus dikembangkan, diteruskan, dan dibuat lebih baik. Semoga generasi muda memiliki semangat cinta tanah air, cinta kepada negara, serta terus mendukung Pancasila, NKRI, UUD 1945, dan Bhinneka Tunggal Ika,” ujar Sugeng.
Ia menekankan, generasi muda merupakan penerus yang akan menentukan arah Indonesia di masa mendatang. Karena itu, nilai persatuan dan kecintaan terhadap bangsa perlu terus ditanamkan sejak di
Sugeng berharap semangat generasi penerus dalam menjaga Indonesia dapat melampaui semangat generasi sebelumnya.
“Semoga para penerus nanti memiliki semangat yang lebih besar daripada kita dalam mencintai dan membangun Indonesia,” tutupnya.






